Selasa, 02 April 2013

ENAM TARGET SETAN UNTUK MENYESATKAN MANUSIA


Ada enam target yang dipasang setan untuk menyesatkan manusia.



Pertama adalah menjerumuskan manusia dalam kemusyrikan atau kekafiran. Setan mengajak manusia untuk menduakan Allah dalam ibadah. Orang yang terjebak ranjau setan ini tidak merasa cukup untuk beribadah hanya kepada Allah namun dia sisihkan sebagian waktunya untuk beribadah kepada selain Allah. Di satu waktu orang tersebut nampak demikian khusyuk beribadah, berdoa dan memohon kepada Allah. Di lain kesempatan, dia demikian khusyuk berdoa meminta-minta kepada wali yang sudah mati. Di satu waktu, dia menyembelih hewan dalam rangka taat kepada Allah semisal akikah ataupun kurban. Akan tetapi di waktu yang lain dia menyembelih ayam cemani atau kebo bule karena memenuhi permintaan jin ataupun dukun. Inilah yang disebut kemusyrikan alias menduakan Allah dalam ibadah. Inilah dosa yang tidak mungkin Allah ampuni bagi siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat darinya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang levelnya dibawah dosa kemusyrikan, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS an Nisa:48).
Ma’asyiral Muslimin-rahimakumullah-

Jika target di atas sulit untuk dicapai maka setan akan memasang target di bawahnya yaitu menjerumuskan manusia dalam bid’ah dalam agama baik bid’ah akidah ataupun bid’ah ibadah. Dianggap ajaran Islam padahal bukan ajaran Islam itulah yang disebut dengan bid’ah. Dianggap sebagai akidah yang diajarkan oeh Islam padaha bukan, diyakini sebagai ibadah yang diajarkan oleh Islam padahan bukan. Inilah yang disebut dengan bid’ah.

Orang yang bergelimang dengan bid’ah adalah orang yang paling merugi dalam beramal sebagaimana firman Allah,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah: “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS al Kafi:103-104).
Jelaslah orang yang bergelimang dalam bid’ah adalah manusia yang merugi karena dia merasa akan mendapat pahala dengan amalnya padahal dia hanya mendapatkan rasa capek saja karena amal yang dia lakukan tidaklah membuahkan pahala bahkan mendapatkan dosa. Hal itu dikarenakan melakukan bid’ah adalah suatu yang terlarang sedangkan menerjang larangan tentu membuahkan dosa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan amal ibadah namun kami tidak pernah mengajarkannya maka amal yang dia lakukan itu pastilah tertolak” (HR Muslim no 4590).

Target menjerumuskan manusia ke dalam bid’ah itu posisinya setelah kemusyrikan dan di atas dosa besar karena sebagaimana dijelaskan oleh seorang ulama besar di masa tabiin yaitu Sufyan ats Tsauri. Beliau mengatakan bahwa pelaku maksiat itu mudah bertaubat karena dia merasa bersalah. Lain halnya dengan pelaku bid’ah. Dia sulit untuk bertaubat selama dia belum merasa salah bahkan merasa beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan pahala dengan bid’ah yang dilakukannya.

Kaum muslimin-azzaniyallahu wa iyyakum-

Target setan yang ketiga adalah dosa besar. Dosa besar adalah setiap larangan yang memiliki ancaman khusus dalam syariat, boleh jadi diancam dengan neraka, murka Allah, laknat Allah yaitu dijauhkan dari rahmat Allah ataupun tidak diakui oleh Nabi sebagai bagian dari umatnya.
Oleh karena itu diantara contoh dosa besar adalah menipu sebagaimana sabda Nabi,
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى
“Barang siapa yang melakukan penipuan maka dia bukanlah umatku” (HR Muslim no 295).
Penipuan memiliki bentuk yang sangat beragam di zaman ini. Diantaranya mark up dalam laporan keuangan, mencontek ketika ujian, pemalsuan berkas dll.

Dosa besar itu tidak bisa terhapus dengan semata-mata gemar melakukan amal shalih semisal puasa, berwudhu dan shalat. Siapa saja yang ingin dosa besar yang pernah dilakukan terhapus dari catatan amalnya, dia harus bertaubat kepada Allah dengan penuh kesungguhan. Itulah taubat yang dilakukan ikhlas karena Allah, diiringi penyesalan, tekad untuk tidak akan lagi mengulangi perbuatan tersebut, segera meninggalkan maksiat yang telah dilakukan dan taubat ini dilakukan sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Jika dosa tersebut terkait dengan hak sesama manusia maka wajib mengembalikan hak orang lain yang telah diambil.

Target setan berikutnya adalah menjerumuskan manusia ke dalam dosa kecil. Dosa kecil adalah segala hal yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya namun tidak ada ancaman khusus terkait dengan larangan tersebut. Dosa jenis inilah yang bisa dihapus dengan semata-mata melakukan amal shalih meski tanpa niatan bertaubat. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS Hud:114).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ ».
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, shalat Jumat sampai shalat Jumat berikutnya dan puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR Muslim no 574).

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah,

Akan tetapi perlu diketahui bahwa dosa kecil itu bisa bernilai dosa besar jika 1)pelakunya meremehkan dosa tersebut pada saat melakukannya 2) perbuatan dosa kecil tersebut dilakukan dengan berulang kali 3) dosa kecil tersebut dilakukan di tempat umum yang bisa dilihat oleh banyak orang dan 4) dosa tersebut dilakukan oleh seorang yang seharusnya menjadi panutan bagi banyak orang.

Jika setan merasa sulit untuk menggoda manusia agar melakukan dosa baik dosa besar ataupun dosa kecil maka setan akan membuat orang tersebut sibuk dengan hal-hal yang mubah semisal banyak tidur sehingga waktu yang dia miliki untuk melakukan amal kebajikan semakin terbatas.

Jadi tidur dalam kadar yang wajar adalah sebuah keniscayaan untuk menunaikan hak badan namun hobi tidur adalah bentuk godaan setan.

Jika target ini pun sulit untuk dicapai maka setan berupaya untuk membuat manusia sibuk dengan amal-amal kebajikan yang nilainya kurang afdhol sehingga mereka meninggalkan amal yang lebih afdhol. Setan membuat orang sibuk dengan shalat sunah sehingga tidak lagi memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu agama yang hukumnya sunah. Demikianlah enam target yang dipasang oleh setan untuk menyesatkan manusia. Setelah kita mengetahuinya maka kita wajib berupaya menyelamatkan diri kita jangan sampai kita menjadi salah satu mangsa setan dengan berbagai bentuk targetnya.





*ini bahasan kajian selasa pagi di al-Islam (2/4/13)

sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar